MENGENAL ETILEN GLIKOL DAN DIETILEN GLIKOL

PENYEBAB GAGAL GINJAL AKUT


 

 Akhir – akhir ini, masyarakat Indonesia digegerkan dengan penyakit gagal ginjal akut yang menyerang anak – anak usia dibawah 8 tahun. Penyakit ini timbul pada anak diakibatkan konsumsi obat berbentuk sirup yang diduga mengandung senyawa etilen glikol dan dietilen glikol di dalamnya, sehingga Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan peraturan bagi tenaga kesehatan untuk sementara tidak meresepkan obat sirup terutama pada anak. Kemenkes menyatakan bahwa setelah dikeluarkannya peraturan tersebut pada tanggal 24 Oktober 2022, terdapat peningkatan jumlah pasien gagal ginjal akut pada anak dari yang sebelumnya 251 orang menjadi 269 orang. Lantas apakah itu etilen glikol dan dietilen glikol serta bagaimana pencegahan terhadap keracunan etilen glikol dan dietilen glikol?

Etilen glikol (C2H6O2) merupakan senyawa organik yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan fiber poliester, industri pabrik, dan Polietilen Tereftalat (PET) yang sering digunakan pada botol plastik. Sementara dietilen glikol (HOCH2CH2)H2O merupakan senyawa organik yang tidak berwarna, praktis tidak berbau, beracun, dan higroskopis dengan rasa yang manis. Kedua senyawa ini merupakan senyawa beracun dan berbahaya apabila masuk ke dalam saluran pencernaan manusia. Etilen glikol dan dietilen glikol memiliki rasa yang manis sehingga besar kemungkinan kedua senyawa ini dijadikan sebagai pengganti zat pemanis pada obat sirup. Etilen glikol akan teroksidasi menjadi asam glikolat dan kemudian teroksidasi lagi menjadi asam oksalat ketika terhirup. Etilen glikol dan produk sampingnya seperti dietilen glikol yang bersifat racun akan menyerang beberapa organ dalam manusia seperti sistem saraf pusat, jantung, hingga ginjal dan dapat berakibat fatal jika tidak segera mendapatkan penanganan medis.

Meskipun pada awalnya produk obat tidak ditambahkan etilen glikol maupun dietilen glikol, senyawa ini tetap bisa mengontaminasi produk obat yang menggunakan propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol, dan gliserin atau gliserol sebagai zat pelarut. Keempat bahan tambahan tersebut tidak berbahaya apabila ditambahkan pada produk obat. Ambang batas aman untuk cemaran etilen glikol yang susah ditetapkan sesuai standar baku di Indonesia yakni sebesar 0,5 mg/kg berat badan/hari. Gejala keracunan etilen glikol ini antara lain pusing, sakit kepala, gangguan bicara, linglung, gangguan koordinasi gerakan lengan dan tungkai, pergerakan bola mata secara tidak sadar yang cepat dan berulang, rewel, mual dan muntah.

Penting dilakukan penanganan terhadap keracunan etilen glikol dan dietilen glikol ini. Karena jika tidak segera ditangani dapat berujung pada kematian. Penanganan yang dilakukan dapat dilakukan oleh tenaga medis terdiri dari pemberian cairan infus untuk mengatasi asidosis metabolik, pemberian obat penawar racun berupa fomepizole, jika pasien mengalami kejang maka diberikan benzodiazepine, dilakukan cuci darah untuk menghilangkan racun yang sudah masuk ke peredaran darah. Selain penanganan yang dilakukan oleh tenaga medis, untuk menekan resiko keracunan etilen glikol dan dietilen glikol, masyarakat harus selalu waspada dan menjadi konsumen obat yang cerdas. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mengkonsums obat diantaranya membeli obat hanya di tempat yang resmi seperti apotek, puskesmas, klinik, atau rumah sakit, jika harus membeli secara online harus dilakukan di apotek yang telah mengantongi izin Penyelenggara Sistem Elektronik Farmasi (PSEF), selalu membaca dan memeriksa label kemasan, komposisi, izin edar, dan tanggal kadaluwarsa sebelum mengkonsumsi obat, konsumsi obat sesuai dosis yang dianjurkan pada kemasan atau sesuai dengan arahan dokter, serta berkonsultasi dengan dokter jika masih ragu tentang cara meminum obat dan dosis obat.

Untuk saat ini memang tenaga kesehatan tidak diperkenankan untuk meresepkan obat sirup untuk anak. Namun, hal ini tidak perlu dikhawatirkan karena ada alternatif pemberian obat yang dapat diberikan sesuai dengan keluhan pada anak. Jika setelah mengkonsumsi obat, terutama sirup anak anda mengalami gejala seperti keracunan etilen glikol maupun dietilen glikol, segera bawa ke IGD atau rumah sakit guna mendapat penanganan medis dari tenaga kesehatan.

 

 

Sumber :

Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia (2022). Informasi Keempat Hasil Pengawasan Bpom Terhadap Sirup Obat Yang Diduga Mengandung Cemaran Etilen Glikol (EG) Dan Dietilen Glikol (DEG).

Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia (2022). Penjelasan BPOM RI Tentang Sirup Obat Untuk Anak di Gambia, Afrika Yang Terkontaminasi Dietilen Glikol Dan Etilen Glikol.

Centers for Disease Control and Prevention (2022). What Are the Toxicological Effects of Ethylene Glycol Poisoning?

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2022). Kemenkes Ambil Kebijakan Antisipatif Untuk Cegah Gangguan Ginjal Pada Anak.

Keyes, D. Medscape (2021). Ethylene Glycol Toxicity Treatment & Management.
Keyes, D. Medscape (2021). Ethylene Glycol Toxicity Clinical Presentation
Keyes, D. Medscape (2021). Ethylene Glycol Toxicity.

Komentar